Presidium Hubungan Luar Negeri - Lingkungan Hidup PMKRI Pontianak, Leonardus Resadi, Mengkritik Pernyataan Presiden Prabowo Terkait Pelemahan Rupiah dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Serta Desa

Pontianak, Kalimantanpost.online.-
Presidium Hubungan Luar Negeri-Lingkungan Hidup Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Pontianak Santo Thomas More Periode 2025-2026, Leonardus Resadi Mengkritik terhadap Pernyataan Presiden Prabowo terkait Pelemahan Rupiah dan Dampaknya terhadap Masyarakat serta Desa. 

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh kisaran Rp17.602 per USD memunculkan kekhawatiran luas di tengah masyarakat. Dalam situasi tersebut, pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa desa tidak menggunakan dolar sehingga dampaknya dianggap tidak terlalu signifikan, perlu dikritisi secara serius karena berpotensi meremehkan dampak ekonomi nyata yang dirasakan rakyat.

Meskipun transaksi sehari-hari di desa memang menggunakan rupiah, kenyataannya struktur ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar Amerika. Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor impor besar atau pasar keuangan, tetapi juga menekan kehidupan masyarakat hingga ke tingkat desa melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya produksi pertanian, energi, dan transportasi.

### Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Masyarakat

1. Kenaikan Harga Barang Pokok
Banyak kebutuhan dasar masyarakat bergantung pada bahan impor atau distribusi yang dipengaruhi kurs dolar, termasuk gandum, gula, kedelai, pupuk, obat-obatan, hingga bahan bakar. Ketika rupiah melemah, biaya impor naik dan akhirnya dibebankan kepada masyarakat dalam bentuk harga barang yang lebih mahal.

2. Petani dan Nelayan Semakin Tertekan
Desa memang tidak menggunakan dolar secara langsung, namun petani membeli pupuk, pestisida, alat pertanian, hingga solar dengan harga yang dipengaruhi nilai tukar internasional. Nelayan menghadapi kenaikan biaya BBM dan suku cadang kapal. Akibatnya, biaya produksi meningkat sementara daya beli masyarakat menurun.

3. Inflasi Menggerus Pendapatan Rakyat
Melemahnya rupiah memicu inflasi yang membuat penghasilan masyarakat tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Buruh, petani, pedagang kecil, dan pekerja informal menjadi kelompok paling rentan karena pendapatan mereka tidak naik secepat kenaikan harga barang.

4. Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Banyak industri bergantung pada bahan baku impor. Ketika biaya produksi melonjak akibat kurs dolar, perusahaan dapat mengurangi produksi, menekan upah, bahkan melakukan PHK. Dampaknya akan menjalar hingga ke daerah-daerah dan desa melalui menurunnya aktivitas ekonomi.

5. Utang Negara dan Beban Fiskal Bertambah
Sebagian utang pemerintah dan swasta menggunakan mata uang asing. Pelemahan rupiah menyebabkan pembayaran utang menjadi lebih mahal dan dapat membebani APBN. Pada akhirnya, ruang fiskal pemerintah untuk membantu rakyat menjadi semakin sempit.

### Desa Tetap Terdampak Walau Tidak Menggunakan Dolar

Pernyataan bahwa desa tidak menggunakan dolar menunjukkan pemahaman yang terlalu sempit terhadap sistem ekonomi modern. Ekonomi desa terhubung dengan rantai distribusi nasional dan global. Harga pupuk, transportasi, listrik, logistik, dan kebutuhan pokok dipengaruhi oleh kurs dolar serta kondisi perdagangan internasional.

Masyarakat desa mungkin tidak memegang dolar secara fisik, tetapi mereka merasakan dampaknya melalui:

* naiknya harga sembako,
* meningkatnya biaya pertanian,
* mahalnya ongkos transportasi,
* menurunnya daya beli,
* dan sulitnya lapangan pekerjaan.

Dengan demikian, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar valuta asing, melainkan persoalan nyata yang mempengaruhi kesejahteraan rakyat hingga lapisan terbawah.

### Pemerintah Harus Memberikan Solusi Nyata

Pemerintah seharusnya tidak meremehkan pelemahan rupiah atau memberikan narasi yang menenangkan tanpa langkah konkret. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah:

* stabilisasi harga kebutuhan pokok,
* penguatan cadangan pangan dan energi,
* perlindungan terhadap petani dan UMKM,
* pengendalian impor,
* serta kebijakan ekonomi yang mampu menjaga kepercayaan pasar dan kestabilan rupiah.

Selain itu, pemerintah perlu menyampaikan komunikasi publik yang jujur, terbuka, dan berbasis realitas sosial masyarakat agar tidak menimbulkan kesan bahwa penderitaan rakyat dianggap sepele.

### Penutup

Pelemahan rupiah hingga Rp17.602 per dolar Amerika merupakan sinyal serius terhadap kondisi ekonomi nasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar atau perusahaan besar, tetapi juga oleh masyarakat desa, petani, nelayan, buruh, dan rakyat kecil secara luas.

Karena itu, setiap pernyataan pejabat negara harus mencerminkan empati, kehati-hatian, dan pemahaman menyeluruh terhadap kondisi rakyat. Pemerintah dituntut hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar pernyataan yang berpotensi mengaburkan kesulitan ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat.

(Lisa) 

Belum ada Komentar untuk "Presidium Hubungan Luar Negeri - Lingkungan Hidup PMKRI Pontianak, Leonardus Resadi, Mengkritik Pernyataan Presiden Prabowo Terkait Pelemahan Rupiah dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Serta Desa"

Posting Komentar