Kota Singkawang Dilanda Kekeringan dan Karhutla, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga


Kalimantanpost.online — Singkawang. Kondisi cuaca kering berkepanjangan mulai menimbulkan dampak serius di Kota Singkawang dan sejumlah wilayah sekitarnya. Selama lebih dari sebulan, hujan disebut belum mengguyur secara berarti, menyebabkan sejumlah lahan mengalami kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


Kondisi tersebut diperparah dengan adanya dugaan pembakaran lahan kosong oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Api yang muncul di sejumlah lokasi kemudian menimbulkan kepulan asap dan menyebabkan kabut asap menyelimuti beberapa kawasan.


Aktivitas masyarakat pun ikut terganggu. Di tengah kondisi kualitas udara yang menurun, sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran AQdari rumah secara daring sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap.


Titik Api Tersebar di Sejumlah Wilayah.

Karhutla dilaporkan terjadi di sedikitnya tiga kecamatan di Kota Singkawang. Wilayah yang memiliki lahan gambut menjadi salah satu kawasan yang cukup rawan karena kondisi tanah dan vegetasi yang sangat kering.


Di Kecamatan Singkawang Utara, kebakaran cukup parah dilaporkan terjadi di kawasan Jalan Senen, Kelurahan Sungai Rasau. Kebakaran disebut telah berlangsung selama belasan hari dan menghanguskan puluhan hektare lahan gambut.


Sementara di Kecamatan Singkawang Selatan, titik api terpantau di sekitar Kelurahan Pangmilang, termasuk kawasan yang berada di sekitar akses menuju Bandara Singkawang dan Jembatan 12.


Titik api juga sempat muncul di kawasan Mayasopa serta sejumlah kelurahan lainnya. Kondisi cuaca panas dan minimnya curah hujan membuat api berpotensi cepat menyebar apabila tidak segera ditangani.


Sirene Pemadam Tak Henti Berbunyi

Situasi karhutla membuat mobilitas petugas pemadam kebakaran meningkat. Suara sirene kendaraan pemadam terdengar berulang kali, sementara kendaraan petugas lalu-lalang menuju lokasi yang dilaporkan terdapat titik api.


Penanganan dilakukan secara bersama-sama oleh tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Manggala Agni dan Pemerintah Kota Singkawang. Petugas berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan, bahkan harus bergantian melakukan pengawasan untuk mencegah api kembali membesar.


Namun, proses pemadaman tidak mudah. Cuaca panas, kondisi lahan yang kering serta terbatasnya sumber air menjadi kendala tersendiri bagi petugas di lapangan.


Untuk mengatasi keterbatasan sumber air di sejumlah lokasi rawan, dilakukan upaya penyediaan sumber air, termasuk pembuatan sumur bor di titik-titik tertentu.


Kualitas Udara Menurun, Warga Diminta Waspada

Dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat. Kabut asap menyebabkan jarak pandang di sejumlah ruas jalan berkurang dan kualitas udara sempat berada pada kondisi yang tidak sehat.


Masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki sensitivitas terhadap asap.


Pemerintah dan aparat terkait juga diharapkan terus melakukan pemantauan terhadap titik api serta menindak tegas apabila ditemukan pembakaran lahan yang dilakukan dengan sengaja dan melanggar ketentuan.


Jangan Anggap Remeh Pembakaran Lahan

Kondisi kekeringan yang berlangsung panjang membuat pembakaran lahan menjadi sangat berisiko. Api yang awalnya terlihat kecil dapat dengan cepat menjalar melalui vegetasi kering dan sulit dikendalikan, terlebih di kawasan gambut.


Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan keberadaan titik api kepada petugas.


Kekeringan, kebakaran lahan dan kabut asap kini menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan serius dan terpadu. Kecepatan pemadaman harus diiringi dengan pencegahan agar titik api tidak terus bermunculan dan mengancam kesehatan serta aktivitas warga Kota Singkawang.


Penulis.jbs

Belum ada Komentar untuk "Kota Singkawang Dilanda Kekeringan dan Karhutla, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga "

Posting Komentar