Tikus Berlindung di Balik Merah Putih: Sindiran di Tengah Semangat Kemerdekaan dan Karnaval Rakyat Singkawang
Kalimantanpost.online,-SINGKAWANG, 26 Agustus 2026 — Sebuah video yang memperlihatkan seekor tikus berada di sekitar tiang dan kain Bendera Merah Putih menghebohkan warga di media sosial. Lokasi kejadian dalam video tersebut belum diketahui secara pasti, demikian pula waktu pengambilan gambarnya.
Namun, kemunculan video itu menjadi menarik karena bertepatan dengan momentum peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi sebagian masyarakat, gambar seekor tikus yang berlindung di balik Merah Putih seolah menghadirkan simbol satire yang mengundang pertanyaan: apakah ini sekadar peristiwa biasa, atau justru menjadi metafora tentang sesuatu yang selama ini menggerogoti kehidupan rakyat?
Tentu, tidak tepat menyimpulkan makna politik hanya dari seekor tikus dan sebuah video yang lokasi maupun konteksnya belum terverifikasi. Tetapi sebagai sebuah gambaran visual, fenomena tersebut memang mudah memancing tafsir publik.
Ketika Tikus Menjadi Simbol
Dalam bahasa kritik sosial, tikus kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang merusak, mencuri, atau menggerogoti secara perlahan dari dalam.
Karena itu, ketika seekor tikus terlihat berada di sekitar Bendera Merah Putih, publik dapat saja menangkapnya sebagai sebuah simbol satir: Merah Putih sebagai lambang negara, sementara tikus menjadi gambaran tentang perilaku yang dianggap merugikan rakyat dan negara.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata tentang tikus tersebut.
Apa yang sebenarnya sedang kita biarkan “berlindung” di balik simbol kebangsaan?
Apakah korupsi?
Apakah penyalahgunaan kekuasaan?
Apakah pemborosan anggaran?
Atau berbagai persoalan sosial yang terus menggerogoti kepercayaan masyarakat?
Jawabannya tentu harus dikembalikan kepada fakta, bukan sekadar asumsi.
Di Singkawang, Karnaval Justru Lahir dari Rakyat
Momentum tersebut semakin menarik jika dikaitkan dengan suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Singkawang.
Menurut informasi yang disampaikan dalam narasi masyarakat, Pemerintah Kota Singkawang tidak menyelenggarakan pawai karnaval HUT Kemerdekaan tahun ini dengan alasan efisiensi anggaran.
Di sisi lain, Walikota disibuk kan dengan kegiatan Sukarno Run 5K Singkawang dan diikuti ribuan peserta.
Perbedaan pilihan kegiatan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Bukan semata soal ada atau tidaknya sebuah acara, tetapi mengenai bagaimana anggaran dan prioritas kegiatan publik dipersepsikan oleh masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat Singkawang menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak selalu harus menunggu pemerintah.
Pawai karnaval HUT ke-81 RI pada 22 Agustus 2026 justru lahir dari inisiatif masyarakat.
Warga bergotong royong mengumpulkan dana, tenaga, waktu dan pikiran. Mereka bergerak bersama untuk menghadirkan kemeriahan kemerdekaan tanpa sepenuhnya bergantung kepada anggaran pemerintah.
Inilah wajah lain dari kemerdekaan: rakyat mengambil peran ketika ruang partisipasi terbuka.
Replika Tikus Berdasi, Sindiran yang Sengaja Dipertontonkan
Yang tak kalah menarik, dalam pawai tersebut terlihat replika patung tikus berdasi yang membawa tas, dengan gambaran seolah-olah sedang menggerogoti uang rakyat.
Pesan visual itu jelas merupakan bentuk kritik sosial.
Tikus berdasi bukan lagi sekadar hewan pengerat. Ia telah menjadi simbol yang sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan praktik korupsi dan perilaku orang-orang yang dianggap mengambil keuntungan dari uang negara maupun uang rakyat.
Namun, kritik tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai tontonan atau sekadar bahan tertawaan.
Jika benar-benar ingin memaknai kemerdekaan, maka pesan yang terkandung di balik simbol tersebut patut direnungkan.
Kemerdekaan bukan hanya tentang parade, bendera dan perayaan. Kemerdekaan juga tentang bagaimana uang rakyat dikelola, bagaimana kekuasaan digunakan, dan bagaimana kepentingan masyarakat ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat
Apa yang dilakukan warga Singkawang patut mendapatkan apresiasi.
Mereka tidak hanya menunggu pemerintah menyelenggarakan kemeriahan. Mereka mengambil inisiatif, mengumpulkan sumber daya secara swadaya dan menyatukan semangat gotong royong.
Dari warga, oleh warga, untuk warga.
Semangat seperti inilah yang semestinya menjadi ruh peringatan kemerdekaan.
Sementara itu, simbol tikus yang muncul dalam video maupun replika tikus berdasi dalam karnaval dapat ditempatkan sebagai ruang refleksi bersama—bukan sebagai tuduhan terhadap individu atau lembaga tertentu.
Sebab yang paling penting bukan mencari siapa “tikusnya”.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan tidak ada perilaku yang benar-benar menggerogoti uang rakyat, kepercayaan publik, maupun masa depan bangsa.
Merah Putih adalah simbol kehormatan bangsa.
Karena itu, pertanyaan yang pantas diajukan bukan hanya:
“Mengapa tikus berlindung di balik Merah Putih?”
Tetapi juga:
“Sudahkah kita semua menjaga Merah Putih dari segala bentuk perilaku yang menggerogoti kepentingan rakyat?”
Karnaval telah selesai. Perayaannya telah berlalu. Tetapi pesan kritik rakyat semestinya tidak ikut selesai.
Penulis.jbs
Belum ada Komentar untuk "Tikus Berlindung di Balik Merah Putih: Sindiran di Tengah Semangat Kemerdekaan dan Karnaval Rakyat Singkawang"
Posting Komentar