Para Pengecer BBM Di Sambas Mengunakan Motor Bertangkikan Jumbo

Kalimantanpost.online,- Antrean pengecer bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) adalah fenomena yang sering terjadi di Kalbar. Antrean ini dipicu oleh sejumlah faktor kompleks yang berkaitan dengan distribusi, kebijakan, dan praktik di lapangan. 
Beginilah kondisi antrian pembelian BBM di berbagai SPBU Kabupaten Saambas. Nampak jelas kendaraan pengecer BBM jenis Pertalite semuanya mengunakan tangki jumbo yang sudah dimodifikasi yang diperkirakan bisa muat lebih 20 liiter BBM jenis Pertalite dan antrian panjang BBM mulai dari jenis solar dan Pertalite hingga ke badan jalan di setiap Wilayah SPBU khusus diSambas.
Kelangkaan pasokan BBM bersubsidi: Pengecer sering mengantre saat terjadi kelangkaan pasokan BBM subsidi, seperti Pertalite atau Solar. Terkadang, pasokan harian untuk setiap SPBU disambas dikurangi oleh distributor seperti Pertamina, yang memicu antrean panjang.
Pembatasan dan perubahan kebijakan distribusi: Kebijakan yang membatasi pembelian BBM bersubsidi, misalnya dengan menggunakan kode QR melalui aplikasi MyPertamina, dapat memengaruhi pola pembelian. Pengecer yang tidak terdaftar mungkin mengalami kesulitan, sementara yang terdaftar tetap berusaha mendapatkan jatah sebanyak mungkin.
Disparitas harga: Perbedaan harga yang signifikan antara BBM bersubsidi di SPBU dan harga eceran di kios kios kecil mendorong pengecer untuk memborong BBM subsidi. 

Hasil penelusuran Awak media KP dilapangan harga BBM jenis Pertalite  subsidi yang dijual di SPBU Rp.10.000/liternya sedangkan dikios kios dijual dengan harga perliternya Rp.12.000 dan jelas ada ada selisih harga Rp.2.000,'/lliter hingga membuat para Pengecer bisa menjual kembali BBM tersebut dengan harga lebih tinggi untuk mendapatkan keuntungan.

Kebutuhan untuk usaha kecil: Para pengecer sering kali membeli BBM untuk dijual kembali kepada masyarakat yang tinggal jauh dari SPBU atau membutuhkan bahan bakar untuk mesin pertanian dan perkebunan. Kebutuhan ini mendorong mereka untuk ikut mengantre.


Pengawasan yang lemah: Pengawasan yang kurang ketat di SPBU memungkinkan praktik pembelian dalam jumlah besar oleh pengecer, yang berpotensi menghabiskan stok dan merugikan konsumen lain.
Dampak antrean pengecer dapat menganggu lalu lintas Antrean yang mengular dari SPBU hingga ke jalan raya dapat menyebabkan kemacetan dan mengganggu arus lalu lintas, seperti yang terjadi diKabupaten Sambas.


Kenaikan harga eceran: Ketika pasokan sulit didapat, harga BBM di tingkat pengecer melonjak drastis, sehingga memberatkan konsumen yang membeli dari kios kios kecil.


Dalam hal ini Kekhawatiran bagi konsumen umum Pengendara lain yang membutuhkan BBM untuk penggunaan pribadi sering merasa dirugikan karena harus mengantre lama atau bahkan kehabisan stok akibat diborong oleh para pengecer.


Praktik curang Situasi ini dapat memicu praktik curang oleh oknum-oknum yang menimbun BBM untuk dijual dengan harga tinggi, seperti yang dilaporkan terjadi di Singkawang.


Awak media KP meminta kepada pemerintah dan APH Sambas melalui kementerian terkait dan Pertamina, terus berupaya mengatasi masalah ini dengan berbagai cara: 
Normalisasi pasokan:


Distributor BBM berupaya menormalkan pasokan untuk mencegah antrean berkepanjangan.
Mendorong kemitraan dengan Pertamina: Pemerintah telah mendorong SPBU swasta yang mengalami kelangkaan untuk bekerja sama dengan Pertamina dalam pengadaan pasokan.


Pengetatan pengawasan: Pihak berwenang berupaya memperketat pengawasan di SPBU untuk mencegah praktik curang dan penimbunan oleh pengecer.


Edukasi dan penindakan Di beberapa daerah, dilakukan edukasi sekaligus penindakan tegas terhadap pengecer BBM ilegal untuk mengurangi dampak buruk dari aktivitas mereka. 

Penulis: Arie.P

Belum ada Komentar untuk "Para Pengecer BBM Di Sambas Mengunakan Motor Bertangkikan Jumbo"

Posting Komentar